Penyebab Darah Rendah Serta Gejala dan Cara Mengatasinya
Tekanan darah rendah atau yang dalam istilah medis dikenal sebagai hipotensi sering kali dianggap kurang berbahaya dibandingkan tekanan darah tinggi (hipertensi). Namun, pada kenyataannya, memahami penyebab darah rendah sangatlah krusial karena kondisi ini dapat menjadi sinyal adanya masalah kesehatan yang lebih serius di dalam tubuh. Tekanan darah rendah terjadi ketika kekuatan aliran darah yang mendorong dinding arteri berada di bawah batas normal, yang biasanya didefinisikan secara klinis pada angka di bawah 90/60 mmHg.
Kondisi ini dapat menyerang siapa saja, mulai dari orang dewasa muda hingga lansia, dengan faktor pemicu yang sangat beragam. Bagi sebagian orang, memiliki tekanan darah rendah mungkin tidak menimbulkan gejala apa pun dan dianggap normal. Akan tetapi, bagi sebagian lainnya, penurunan tekanan darah yang drastis dapat menyebabkan suplai oksigen ke otak dan organ vital lainnya terhambat. Oleh karena itu, mengenali akar permasalahan dari rendahnya tekanan darah adalah langkah pertama yang paling bijak untuk menjaga stabilitas kesehatan jangka panjang.
Memahami Klasifikasi Tekanan Darah
Sebelum membahas lebih dalam mengenai faktor pemicunya, penting bagi kita untuk mengetahui angka normal tekanan darah. Tekanan darah diukur menggunakan dua angka: sistolik (tekanan saat jantung berdetak) dan diastolik (tekanan saat jantung beristirahat di antara detakan). Berikut adalah tabel klasifikasi tekanan darah secara umum untuk membantu Anda mengidentifikasi kondisi Anda:
| Kategori | Sistolik (mmHg) | Diastolik (mmHg) |
|---|---|---|
| Normal | 90 - 120 | 60 - 80 |
| Darah Rendah (Hipotensi) | Di bawah 90 | Di bawah 60 |
| Pre-Hipertensi | 121 - 139 | 81 - 89 |
| Hipertensi Tahap 1 | 140 - 159 | 90 - 99 |
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan angka di bawah 90/60 mmHg secara konsisten disertai dengan keluhan fisik, maka Anda perlu waspada terhadap potensi penyebab darah rendah yang sedang berlangsung di dalam sistem metabolisme tubuh Anda.
Berbagai Faktor Penyebab Darah Rendah yang Umum
Penyebab rendahnya tekanan darah tidak selalu disebabkan oleh satu faktor tunggal. Sering kali, kondisi ini merupakan akumulasi dari beberapa gangguan fungsi tubuh atau gaya hidup tertentu. Berikut adalah beberapa faktor utama yang sering ditemukan secara klinis:
1. Dehidrasi yang Berkepanjangan
Salah satu penyebab darah rendah yang paling sering terjadi namun sering diabaikan adalah dehidrasi. Ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang dikonsumsi, volume darah dalam tubuh akan menurun secara otomatis. Volume darah yang berkurang berarti jantung tidak memiliki cukup cairan untuk dipompa ke seluruh tubuh, sehingga tekanan darah pun merosot.

2. Kondisi Selama Masa Kehamilan
Ibu hamil sering kali mengalami penurunan tekanan darah, terutama pada 24 minggu pertama masa kehamilan. Hal ini terjadi karena sistem sirkulasi wanita meluas dengan cepat untuk mendukung pertumbuhan janin. Ini adalah hal yang lumrah dan biasanya tekanan darah akan kembali ke level normal setelah melahirkan. Namun, tetap diperlukan pemantauan medis untuk memastikan tidak terjadi komplikasi.
3. Kekurangan Nutrisi Penting dalam Diet
Tubuh membutuhkan vitamin dan mineral tertentu untuk memproduksi sel darah merah dalam jumlah yang cukup. Kurangnya asupan vitamin B12, asam folat, dan zat besi dapat menyebabkan anemia. Ketika jumlah sel darah merah tidak memadai, tubuh tidak dapat mengangkut oksigen secara efisien, yang pada akhirnya memicu kondisi tekanan darah rendah kronis.
Gangguan Medis sebagai Akar Masalah Hipotensi
Selain faktor gaya hidup, beberapa kondisi medis yang mendasari juga bisa menjadi jawaban mengapa tekanan darah seseorang terus berada di angka rendah. Berikut adalah beberapa kondisi kesehatan yang harus diperhatikan:
- Masalah Jantung: Kondisi seperti detak jantung yang sangat lambat (bradikardia), masalah katup jantung, atau gagal jantung dapat menghambat kemampuan organ jantung untuk memompa darah dengan cukup kuat ke seluruh tubuh.
- Gangguan Endokrin: Masalah pada sistem hormon seperti penyakit tiroid, insufisiensi adrenal (penyakit Addison), atau gula darah rendah (hipoglikemia) dapat mengganggu regulasi tekanan darah.
- Kehilangan Darah: Kehilangan darah dalam jumlah banyak akibat cedera parah atau perdarahan internal secara drastis mengurangi volume darah, yang berujung pada hipotensi akut.
- Infeksi Parah (Sepsis): Ketika infeksi masuk ke dalam aliran darah, hal ini dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yang mengancam jiwa, yang dikenal sebagai syok septik.
"Hipotensi bukan sekadar angka yang rendah pada tensimeter, melainkan cerminan dari bagaimana organ-organ vital kita berkoordinasi dalam mendistribusikan nutrisi dan oksigen."

Jenis-Jenis Hipotensi Berdasarkan Situasi
Para ahli medis membagi tekanan darah rendah ke dalam beberapa tipe berdasarkan waktu atau situasi terjadinya gejala tersebut:
Hipotensi Ortostatik
Pernahkah Anda merasa pusing mendadak saat berdiri dari posisi duduk atau berbaring? Kondisi ini disebut hipotensi ortostatik. Ini terjadi karena gravitasi menarik darah ke kaki, dan tubuh tidak cukup cepat mengompensasi dengan meningkatkan detak jantung atau menyempitkan pembuluh darah.
Hipotensi Postprandial
Penurunan tekanan darah ini terjadi segera setelah makan. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada lansia, di mana aliran darah lebih banyak dialokasikan ke saluran pencernaan setelah makan besar, sehingga menyebabkan tekanan di bagian tubuh lain menurun.
Gejala Darah Rendah yang Harus Diwaspadai
Mengetahui penyebab darah rendah saja tidak cukup tanpa mengenali gejalanya. Beberapa tanda yang menunjukkan tekanan darah Anda mungkin terlalu rendah meliputi:
- Pusing atau sensasi seperti melayang (lightheadedness).
- Penglihatan yang kabur atau tampak gelap sesaat.
- Mual dan kelelahan ekstrem secara tiba-tiba.
- Kurangnya konsentrasi atau kebingungan mental.
- Kulit pucat, dingin, dan lembap.
- Napas yang pendek dan cepat.
Cara Mengatasi dan Mencegah Tekanan Darah Rendah
Setelah mengidentifikasi faktor pemicunya, langkah selanjutnya adalah melakukan penanganan. Untuk kasus ringan, perubahan pola hidup sering kali sudah cukup memberikan dampak positif yang signifikan.
Pertama, tingkatkan asupan garam dengan bijak. Meskipun garam sering dihindari oleh penderita hipertensi, penderita hipotensi justru membutuhkan natrium untuk menarik cairan ke dalam pembuluh darah. Namun, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter mengenai jumlah yang aman.
Kedua, pastikan hidrasi terpenuhi dengan minum air putih minimal 2-3 liter per hari. Air membantu meningkatkan volume darah dan mencegah dehidrasi. Ketiga, gunakan stoking kompresi jika Anda menderita hipotensi ortostatik. Stoking ini membantu mendorong darah dari kaki kembali ke arah jantung.

Kapan Harus Menghubungi Dokter?
Meskipun tekanan darah rendah sering kali bisa dikelola secara mandiri, Anda harus segera mencari bantuan medis jika mengalami pingsan (sinkop), nyeri dada, atau jika gejala pusing terjadi sangat sering sehingga mengganggu aktivitas harian. Dokter mungkin akan melakukan tes darah, elektrokardiogram (EKG), atau stress test untuk menyingkirkan adanya kelainan fungsional pada jantung atau sistem saraf.
Sebagai kesimpulan, penyebab darah rendah sangat bervariasi, mulai dari hal sederhana seperti kurang minum hingga kondisi kompleks seperti gangguan jantung. Dengan menjaga pola makan bergizi seimbang, mencukupi kebutuhan cairan, dan memahami sinyal-sinyal yang diberikan oleh tubuh, Anda dapat mengelola kondisi ini dengan baik dan tetap menjalani hidup yang produktif dan sehat. Jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala sebagai bentuk deteksi dini terhadap kesehatan Anda.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow