Tuna Rungu adalah Gangguan Pendengaran yang Perlu Dipahami
Istilah tuna rungu adalah sebuah kondisi medis dan sosial di mana seseorang mengalami hambatan dalam fungsi pendengaran, baik secara parsial maupun total. Kondisi ini bukan sekadar hilangnya kemampuan mendengar suara, melainkan sebuah kompleksitas yang memengaruhi cara individu berinteraksi dengan lingkungan, memproses bahasa, dan membangun identitas sosial. Dalam perspektif medis, tunarungu terjadi ketika terdapat kerusakan pada salah satu atau lebih bagian telinga, mulai dari telinga luar, tengah, hingga telinga dalam atau saraf pendengaran yang menuju ke otak.
Masyarakat sering kali menggunakan istilah tuli atau gangguan pendengaran untuk merujuk pada kondisi ini. Namun, penting untuk diingat bahwa setiap individu dengan hambatan pendengaran memiliki spektrum yang berbeda-beda. Ada yang masih bisa mendengar suara dengan bantuan teknologi, dan ada pula yang sepenuhnya mengandalkan visual serta bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Memahami bahwa tuna rungu adalah bagian dari keberagaman manusia merupakan langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah bagi semua kalangan.

Memahami Definisi dan Klasifikasi Tuna Rungu
Secara mendalam, tuna rungu adalah ketidakmampuan untuk mendengar suara pada frekuensi atau intensitas tertentu yang biasanya dapat didengar oleh telinga normal. Batasan pendengaran manusia normal berada di bawah 25 desibel (dB). Jika seseorang tidak mampu mendengar suara di atas ambang tersebut, maka ia dikategorikan mengalami gangguan pendengaran. Klasifikasi ini sangat penting bagi tenaga medis untuk menentukan jenis intervensi atau alat bantu yang paling tepat bagi pasien.
Terdapat dua kategori besar dalam memandang kondisi ini, yaitu Hard of Hearing (kurang dengar) dan Deaf (tuli). Kelompok kurang dengar biasanya masih memiliki sisa pendengaran yang bisa dioptimalkan dengan alat bantu dengar (hearing aid). Sementara itu, kelompok tuli biasanya memiliki tingkat kehilangan pendengaran yang sangat berat sehingga komunikasi utamanya dilakukan melalui penglihatan, seperti membaca gerak bibir (lip reading) atau menggunakan bahasa isyarat.
Jenis Gangguan Pendengaran Berdasarkan Lokasi Kerusakan
Untuk memahami mengapa seseorang menjadi tuna rungu, kita perlu melihat letak kerusakannya. Berikut adalah tiga jenis utama gangguan pendengaran yang diakui secara medis:
- Gangguan Pendengaran Konduktif: Terjadi karena adanya hambatan pada telinga luar atau tengah yang menghalangi suara masuk ke telinga dalam. Penyebabnya bisa karena kotoran telinga yang menumpuk, cairan di telinga tengah, atau infeksi.
- Gangguan Pendengaran Sensorineural: Jenis ini terjadi akibat kerusakan pada sel rambut di dalam koklea atau kerusakan pada jalur saraf pendengaran. Kondisi ini biasanya bersifat permanen dan sering disebabkan oleh faktor usia, paparan bising ekstrem, atau faktor genetik.
- Gangguan Pendengaran Campuran: Merupakan kombinasi antara masalah konduktif dan sensorineural pada satu telinga yang sama.
Tingkat Keparahan Gangguan Pendengaran
Setiap individu tuna rungu memiliki ambang dengar yang berbeda. Berikut adalah tabel klasifikasi tingkat keparahan gangguan pendengaran berdasarkan kemampuan menangkap bunyi dalam satuan desibel (dB):
| Tingkat Gangguan | Ambang Dengar (dB) | Kemampuan Mendengar |
|---|---|---|
| Ringan (Mild) | 26 - 40 dB | Sulit mendengar suara pelan atau bisikan. |
| Sedang (Moderate) | 41 - 60 dB | Sulit mendengar percakapan normal tanpa alat bantu. |
| Berat (Severe) | 61 - 90 dB | Hanya mendengar suara keras atau teriakan. |
| Sangat Berat (Profound) | > 90 dB | Tidak dapat mendengar suara sama sekali (Tuli). |

Penyebab Utama Mengapa Seseorang Menjadi Tuna Rungu
Kondisi tuna rungu adalah fenomena yang bisa terjadi sejak lahir (kongenital) maupun terjadi setelah lahir (didapat). Penyebab kongenital biasanya berkaitan dengan faktor genetik atau masalah selama kehamilan, seperti ibu yang terinfeksi virus Rubella, sifilis, atau toksoplasmosis. Selain itu, prematuritas dan kekurangan oksigen saat bayi lahir (asfiksia) juga berisiko tinggi menyebabkan kerusakan saraf pendengaran bayi.
Di sisi lain, gangguan pendengaran yang didapat bisa terjadi kapan saja sepanjang hidup seseorang. Paparan suara bising dalam jangka panjang, seperti bekerja di pabrik atau menggunakan earphone dengan volume maksimal, dapat merusak sel-sel rambut sensitif di telinga dalam. Penyakit tertentu seperti meningitis, campak, dan gondongan juga diketahui dapat merusak pendengaran. Selain itu, penggunaan obat-obatan ototoksik tertentu yang dikonsumsi tanpa pengawasan dokter juga dapat memberikan efek samping berupa hilangnya pendengaran.
"Deteksi dini pada gangguan pendengaran sangat krusial, terutama pada anak-anak, karena periode emas perkembangan bahasa sangat bergantung pada stimulasi pendengaran yang diterima sejak dini."
Pentingnya Bahasa Isyarat dalam Komunikasi
Bagi komunitas tuli, tuna rungu adalah identitas budaya. Salah satu cara utama mereka berinteraksi adalah melalui bahasa isyarat. Di Indonesia, terdapat dua sistem yang umum dikenal, yaitu BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) dan SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia). BISINDO adalah bahasa alami yang tumbuh secara organik di kalangan teman tuli, sedangkan SIBI adalah sistem isyarat yang sering digunakan dalam pendidikan formal di sekolah-sekolah luar biasa.
Menggunakan bahasa isyarat bukan sekadar menggerakkan tangan, melainkan juga melibatkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh (gestur) untuk menyampaikan emosi dan konteks. Belajar bahasa isyarat dasar merupakan bentuk dukungan nyata terhadap inklusivitas. Hal ini memungkinkan individu yang tidak memiliki gangguan pendengaran untuk menjembatani kesenjangan komunikasi dengan teman-teman tuli di lingkungan kerja, sekolah, maupun fasilitas umum.

Teknologi Pendukung bagi Individu Tuna Rungu
Kemajuan teknologi medis telah memberikan banyak harapan bagi mereka yang ingin meningkatkan kualitas pendengarannya. Alat bantu dengar (hearing aid) saat ini hadir dengan fitur digital yang mampu menyaring suara latar dan memperjelas suara vokal manusia. Alat ini sangat efektif bagi mereka yang memiliki tingkat gangguan pendengaran ringan hingga sedang.
Untuk kasus gangguan pendengaran sensorineural yang sangat berat, teknologi implan koklea (cochlear implant) menjadi solusi yang semakin populer. Berbeda dengan alat bantu dengar yang hanya mengeraskan suara, implan koklea bekerja dengan cara menggantikan fungsi sel rambut yang rusak dan mengirimkan sinyal elektrik langsung ke saraf pendengaran. Meskipun memerlukan prosedur bedah dan terapi wicara yang intensif setelah pemasangan, hasil yang didapat sering kali sangat signifikan dalam membantu pengidap tuna rungu menangkap suara di sekitar mereka.
Tips Berkomunikasi Efektif dengan Teman Tuli
Jika Anda berinteraksi dengan seseorang yang tuna rungu, ada beberapa etika komunikasi yang perlu diperhatikan agar pesan tersampaikan dengan baik:
- Pastikan Anda terlihat: Berdirilah di tempat yang terang dan pastikan wajah Anda sejajar dengan mereka agar mereka bisa membaca gerak bibir.
- Jangan berteriak: Berteriak justru mengubah bentuk bibir dan membuat kata-kata lebih sulit dipahami. Berbicaralah dengan kecepatan normal dan artikulasi yang jelas.
- Gunakan kontak mata: Selalu pertahankan kontak mata untuk menunjukkan bahwa Anda sedang fokus berkomunikasi dengan mereka.
- Manfaatkan tulisan: Jika komunikasi lisan terasa sulit, jangan ragu untuk menggunakan catatan di ponsel atau kertas untuk menyampaikan poin penting.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, tuna rungu adalah kondisi yang kompleks namun tidak seharusnya menjadi hambatan bagi seseorang untuk berprestasi dan hidup mandiri. Dengan dukungan aksesibilitas yang tepat, teknologi yang memadai, serta pemahaman masyarakat yang lebih inklusif, individu dengan gangguan pendengaran dapat berkontribusi secara maksimal di berbagai bidang kehidupan. Edukasi mengenai deteksi dini dan cara berkomunikasi yang benar adalah kunci utama dalam meruntuhkan stigma negatif yang selama ini melekat pada komunitas tuli.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow