Scabies pada Manusia Gejala dan Cara Mengatasinya secara Efektif

Scabies pada Manusia Gejala dan Cara Mengatasinya secara Efektif

Smallest Font
Largest Font

Scabies pada manusia, atau yang secara awam dikenal sebagai kudis, merupakan kondisi kulit yang disebabkan oleh infestasi tungau mikroskopis bernama Sarcoptes scabiei. Masalah kesehatan ini bukan sekadar rasa gatal biasa, melainkan reaksi alergi tubuh terhadap tungau, telur, serta kotoran yang ditinggalkan di bawah lapisan kulit. Meskipun sering dikaitkan dengan masalah kebersihan, scabies sebenarnya dapat menyerang siapa saja tanpa memandang status sosial atau tingkat higienitas seseorang, selama terjadi kontak erat dengan penderita.

Kondisi ini bersifat sangat menular dan sering kali menjadi masalah kronis di lingkungan yang padat penduduk seperti asrama, panti asuhan, atau pesantren. Memahami mekanisme serangan tungau ini sangat penting karena masa inkubasinya bisa memakan waktu hingga enam minggu sebelum gejala pertama muncul. Tanpa penanganan yang tepat dan menyeluruh, scabies tidak hanya merusak kenyamanan tidur penderitanya, tetapi juga berisiko menimbulkan infeksi bakteri sekunder akibat luka garukan yang terbuka.

Tampilan mikroskopis tungau Sarcoptes scabiei penyebab scabies
Tungau Sarcoptes scabiei var. hominis yang menjadi penyebab utama scabies pada manusia.

Mengenal Penyebab Utama Scabies pada Manusia

Penyebab tunggal dari penyakit ini adalah tungau Sarcoptes scabiei varian hominis. Tungau betina yang telah dibuahi akan menggali terowongan di lapisan stratum korneum (lapisan kulit paling luar) untuk bertelur. Di dalam terowongan inilah tungau betina meletakkan 2 hingga 3 telur setiap harinya selama kurang lebih satu bulan. Setelah telur menetas, larva akan naik ke permukaan kulit untuk tumbuh dewasa dan memulai siklus baru.

Penting untuk dicatat bahwa tungau penyebab scabies pada manusia berbeda dengan tungau yang menyerang hewan peliharaan seperti kucing atau anjing. Meskipun tungau hewan bisa berpindah ke manusia, mereka tidak dapat bereproduksi di kulit manusia dan biasanya akan mati dengan sendirinya dalam waktu singkat tanpa menyebabkan infestasi yang persisten. Oleh karena itu, penularan utama scabies pada manusia selalu berasal dari sesama manusia.

Gejala Khas yang Membedakan Scabies dengan Alergi Biasa

Salah satu tantangan dalam mendiagnosis scabies pada manusia adalah kemiripan gejalanya dengan eksim atau dermatitis alergi. Namun, terdapat beberapa indikator spesifik yang disebut sebagai "tanda kardinal" dalam dunia medis. Gejala yang paling menonjol adalah pruritus nokturnal, yakni rasa gatal yang menjadi sangat hebat dan tak tertahankan pada malam hari. Hal ini terjadi karena aktivitas tungau yang meningkat saat suhu tubuh manusia lebih hangat di bawah selimut.

Selain gatal, penderita biasanya akan menemukan ruam berupa bintil kemerahan yang mirip jerawat kecil atau lepuhan. Jika diperhatikan lebih teliti menggunakan bantuan kaca pembesar, terkadang terlihat garis halus berwarna putih keabu-abuan atau sewarna kulit yang merupakan terowongan (canaliculi) tempat tungau bersembunyi. Area tubuh yang paling sering diserang meliputi sela-sela jari tangan, pergelangan tangan, ketiak, sekitar pusar, hingga area genital pada pria.

Fitur PembedaScabies pada ManusiaAlergi/Eksim
Waktu Gatal DominanMalam hari (sangat intens)Sepanjang hari atau saat terpapar pemicu
Lokasi UmumSela jari, lipatan kulit, genitalBisa di mana saja, sering di area terbuka
PenularanSangat menular ke orang serumahTidak menular
Bentuk RuamBintil dengan adanya terowongan halusBercak merah, kering, atau bersisik
Bintil kemerahan akibat scabies pada sela jari tangan
Ruam khas scabies yang sering muncul di area sela-sela jari akibat aktivitas tungau.

Mekanisme Penularan dan Faktor Risiko Tinggi

Penularan scabies pada manusia terjadi melalui dua cara utama. Pertama dan yang paling umum adalah kontak kulit ke kulit secara langsung dan dalam durasi yang cukup lama (prolonged direct contact). Berjabat tangan singkat biasanya tidak cukup untuk memindahkan tungau, namun berpelukan, berhubungan seksual, atau tidur di ranjang yang sama merupakan risiko tinggi.

Cara kedua adalah penularan tidak langsung melalui benda-benda yang terkontaminasi (fomites). Tungau scabies dapat bertahan hidup di luar tubuh manusia selama 48 hingga 72 jam. Oleh karena itu, penggunaan handuk, pakaian, sprei, dan bantal secara bergantian dengan penderita sangat berisiko. Lingkungan dengan kepadatan hunian tinggi merupakan faktor risiko terbesar karena memudahkan siklus penularan antar individu terjadi secara berulang.

"Keberhasilan pengobatan scabies tidak hanya bergantung pada salep yang digunakan pasien, tetapi juga pada kesediaan seluruh anggota keluarga atau teman serumah untuk diobati secara bersamaan, meskipun mereka belum merasakan gejala gatal."

Langkah Diagnosis Medis yang Akurat

Dokter biasanya mendiagnosis scabies pada manusia melalui pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan. Namun, untuk memastikan keberadaan parasit, prosedur skin scraping atau kerokan kulit sering dilakukan. Dokter akan mengambil sampel kecil dari ujung terowongan kulit dan memeriksanya di bawah mikroskop untuk melihat tungau, telur, atau scybala (kotoran tungau).

Ada juga metode pemeriksaan menggunakan tinta (ink test). Tinta digosokkan di atas area yang dicurigai sebagai terowongan, lalu dihapus dengan alkohol. Jika terdapat terowongan, tinta akan meresap ke dalam dan membentuk pola garis yang jelas. Diagnosis yang akurat sangat penting untuk menghindari penggunaan obat steroid yang salah, karena steroid justru dapat menyamarkan gejala scabies dan membuat infestasi semakin parah (incognito scabies).

Pilihan Pengobatan Medis Terbaik untuk Membunuh Tungau

Pengobatan scabies pada manusia bertujuan untuk membasmi tungau dan telur-telurnya secara tuntas. Obat yang paling sering diresepkan oleh dokter adalah skabisida topikal. Berikut adalah beberapa jenis obat yang umum digunakan:

  • Krim Permethrin 5%: Merupakan standar emas (gold standard) pengobatan. Obat ini efektif membunuh tungau dan aman bagi anak-anak di atas usia 2 bulan serta ibu hamil. Cara pakainya adalah dengan mengoleskan ke seluruh tubuh dari leher ke bawah dan didiamkan selama 8-12 jam sebelum dibilas.
  • Salep Sulfur Praecipitatum (Belerang): Biasanya digunakan dalam konsentrasi 6-10%. Meskipun berbau menyengat dan dapat mengotori pakaian, ini adalah pilihan aman bagi bayi di bawah usia 2 bulan.
  • Ivermectin Oral: Obat minum yang biasanya diberikan pada kasus scabies berat atau berkerak (Crusted Scabies) yang sulit disembuhkan dengan krim topikal.

Perlu diingat bahwa rasa gatal mungkin tidak langsung hilang sesaat setelah pemakaian obat. Hal ini wajar karena tubuh masih bereaksi terhadap bangkai tungau yang tertinggal di bawah kulit. Proses penyembuhan total biasanya memakan waktu hingga 4 minggu.

Protokol Kebersihan Rumah untuk Mencegah Kekambuhan

Sering kali penderita mengalami kegagalan pengobatan karena terjadi reinfeksi dari lingkungan sekitar. Untuk memutus rantai penularan scabies pada manusia, langkah-langkah sanitasi berikut wajib dilakukan:

  1. Cuci semua pakaian, sprei, handuk, dan selimut yang digunakan dalam 3 hari terakhir sebelum pengobatan menggunakan air panas (minimal 60 derajat Celcius) dan keringkan dengan suhu tinggi.
  2. Benda-benda yang tidak bisa dicuci (seperti boneka atau bantal besar) harus dimasukkan ke dalam plastik kedap udara dan diikat rapat selama minimal 7 hari hingga tungau mati karena kelaparan.
  3. Lakukan pembersihan rumah menggunakan vacuum cleaner pada karpet dan furnitur berlapis kain, kemudian buang kantong debunya segera.
  4. Hindari berbagi barang pribadi dengan siapapun selama masa pengobatan belum dinyatakan selesai oleh tenaga medis.
Proses mencuci kain dengan air panas untuk mematikan tungau scabies
Mencuci perlengkapan tidur dengan air panas adalah kunci utama memutus rantai penularan scabies di rumah.

Menghadapi Scabies dengan Langkah yang Tepat dan Sabar

Menghadapi serangan scabies pada manusia memang membutuhkan kesabaran ekstra dan ketelitian dalam mengikuti protokol pengobatan. Hal yang paling krusial untuk dipahami adalah scabies bukan merupakan tanda bahwa seseorang itu "kotor", melainkan sebuah tantangan kesehatan lingkungan yang bisa menyerang siapa saja. Penanganan yang setengah-setengah hanya akan memicu resistensi tungau dan membuat penderitaan gatal berlangsung lebih lama.

Vonis akhir dari kondisi ini adalah optimisme; scabies 100% dapat disembuhkan dengan pengobatan medis yang tepat dan serentak. Jika Anda atau anggota keluarga mengalami gejala gatal hebat di malam hari yang tak kunjung sembuh, segera konsultasikan ke dokter spesialis kulit. Rekomendasi terbaik adalah jangan melakukan pengobatan mandiri dengan bahan-bahan alami yang belum teruji, karena penundaan pengobatan medis hanya akan memperluas penularan kepada orang-orang tercinta di sekitar Anda.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow